0

Islami

Isra Mi’raj dalam Penjelasan Sains

No Gravatar
 Ilustrasi peta Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa

Ilustrasi peta Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa

 

Isra Mi’raj menjadi salah satu peristiwa penting bagi umat Islam. Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram, Mekah ke Masjidil Aqsa Palestina dan kemudian menuju ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh pada malam hari.

Puncak dari Isra Mi’raj adalah Nabi Muhammad SAW menerima perintah sholat lima waktu. Perjalanan Nabi Muhammad SAW memang lebih menonjolkan aspek akidah dan ibadah. Namun peristiwa ini bisa diintegrasikan dengan aspek saintifik.

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin menuliskan, Isra Mi’raj bukanlah perjalanan antariksa atau perjalanan menggunakan pesawat terbang antarnegara dari Mekah ke Palestina.

“Penjelasannya yang bisa dipahami sains,” kata Thomas kepada VIVA, Jumat 13 April 2018.

Thomas menuliskan, Isra Mi’raj dalam pendekatan saintifik merupakan perjalanan keluar dari dimensi ruang dan waktu. Memang dia mengatakan, cara Rasulullah melakukan perjalanan itu, ilmu pengetahuan tidak bisa menjelaskan, namun dia menegaskan, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan itu bukan dalam keadaan mimpi.

“Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman,” tulisnya.

Alam dibatasi dimensi ruang waktu, dan pengukurannya umumnya adalah soal jarak dan waktu.

Sedangkan keluar dari dimensi ruang dan waktu, jika dianalogikan berarti pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Dimensi yang lebih besar atau tinggi ini akan mengungguli dimensi yang lebih rendah. Keluar dari dimensi ruang waktu berarti melepaskan diri dari hukum ruang waktu.

Thomas menjelaskan, bisa diilustrasikan, dimensi 1 merupakan garis, dimensi 2 adalah bidang dan dimensi 3 adalah ruang. Maka alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Alam tiga dimensi (ruang) juga dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang).

“Tapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi,” jelas Thomas.

Sebagai contoh, Thomas menerangkan, bayangkan ada alam berdimensi dua (bidang) atau alam berbentuk U. Maka mahluk di alam ‘U’ bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya, perlu menempur jarah jauh.

Sedangkan entitas yang berada di alam berdimensi lebih tinggi, dengan mudah memindahkan sang mahluk, dengan cara mengangkat, dari ujung satu ke ujung lainnya keluar dari dimensi bidang U. Jadi pemindahan mahluk itu tak perlu berkeliling menyusuri lengkungan U.

Thomas menuturkan, dengan memakai penjelasan tersebut, alam malaikat bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu. Sehingga malaikat tak ada masalah dan kendala dengan jarak dan waktu. Malaikat bisa melihat manusia sementara manusia tidak bisa sebaliknya.

“Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua,” jelasnya.

Dengan keluar dari dimensi ruang waktu, berarti perjalanan Rasulullah tersebut tanpa terikat jarak dan waktu. Rasulullah mudah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Tujuh langit

Naiknya Rasulullah ke langit ketujuh dalam Isra Mi’raj, membuka pemahaman bahwa langit berlapis tujuh.

Langit berarti segala yang ada di atas kita. Dengan demikian, angkasa luar yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas bertebaran di atas kita merupakan langit.

Thomas yang merupakan anggota Tim Tafsir Kauni Kementerian Agama-LIPI, menjelaskan bilangan tujuh dalam beberapa hal di Alquran tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal, namun lebih mengacu pada jumlah yang tak terhitung.

Tujuh langit makanya, dalam konteks ini, lebih mengena bila dipahami sebagai tatanan benda langit yang tak terhitung jumlahnya. Bukan dimaknai sebagai lapisan langit.

“Pengertian langit dalam kisah Isra Mi’raj bukanlah pengertian langit secara fisik. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra Mi’raj adalah alam gaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Itu mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

 

sumber: https://www.viva.co.id/digital/digilife/1026341-isra-miraj-dalam-penjelasan-sains

Leave a Reply

Comment validation by @

*